Aqiqah adalah ibadah yang disunahkan kepada orangtua yang memiliki (dikaruniai seorang anak/bayi) dan hukumnya menjadi wajib jika dinadzari (orang tua tersebut bernadzar) seperti orang tua tersebut mengatakan jika anak saya laki-laki maka akan saya aqiqahi.

Aqiqah adalah ibadah yang disunahkan kepada orangtua yang memiliki (dikaruniai seorang anak/bayi) dan hukumnya menjadi wajib jika dinadzari (orang tua tersebut bernadzar) seperti orang tua tersebut mengatakan jika anak saya laki-laki maka akan saya aqiqahi.

Secara prinsip, aturan aqiqah sama dengan aturan qurban

Ibnu Qudamah mengatakan,

وسبيلها في الأكل والهدية والصدقة سبيلها ـ يعني سبيل العقيقة كسبيل الأضحية .. وبهذا قال الشافعي .

Aturan aqiqah terkait jatah booleh dimakan, dihadiahkan, disedekahnkan, sama seperti aturan qurban… dan ini pendapat as-Syafii.

Kemudian beliau menyebutkan khilaf ulama dalam masalah ini. Lalu beliau menyimpulkan,

والأشبه قياسها على الأضحية لأنها نسيكة مشروعة غير واجبة فأشبهت الأضحية ولأنها أشبهتها في صفاتها وسنها وقدرها وشروطها فأشبهتها في مصرفها

Yang lebih mendekati, aqiqah diqiyaskan dengan berqurban. Karena ini ibadah yang disyariatkan dan tidak wajib. Seperti qurban. Karena sama dengan qurban terkait sifatnya, sunah-sunahnya, ukurannya, dan syaratnya. Sehingga dalam aturan penyalurannya juga disamakan. (al-Mughni, 11/120).

Dan dalam aturan ibadah qurban, sohibul qurban dibolehkan untuk memakan sebagian daging qurbannya.

Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah,

فَكُلُواْ مِنْهَا وَأَطْعِمُواْ الْبَآئِسَ الْفَقِيرَ

“Makanlah dari sebagian hewan qurban itu dan berikan kepada orang yang sangat membutuhkan.” (Qs. Al-Haj: 28)

Imam Malik pernah mengatakan,

أحب أن يأكل من أضحيته؛ لأن الله يقول: فَكُلُوا مِنْهَا

“Saya suka jika sohibul kurban makan daging kurbannya. Karena Allah berfirman, yang artinya: ‘Makanlah bagian hewan kurban’.” Ibnu Wahb mengatakan, Saya bertanya kepada Al-Laits dan ia menjawab dengan jawaban yang sama. (Tafsir Ibn Katsir, 5/416).

Dan hukum/syarat rukun aqiqah sama dengan qurban.
Sebagian dari hukum aqiqah atau qurban adalah ada sebagian daging yang disedakahkan kepada fakir miskin apabila qurban atau aqiqah tersebut sunah (tidak dinadzari).
Dan jika aqiqah atau qurban tersebut wajib (dinadzari) maka daging qurban atau aqiqah wajib dishodaqahkan semua dan orang yang aqiqah atau qurban tidak boleh memakannya.
Dari keterangan ini bisa disimpulkan, orangtua yang aqiqah boleh memakan daging aqiqah jika aqiqah tersebut sunah (tidak dinadzari).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *